Pendaftaran ADMAPETA

Pendaftaran Keanggotaan ADMAPETA periode 2018-2020

Untuk menjadi anggota ADMAPETA Periode 2018-2020, Bapak/Ibu dapat mengisi formulir keanggotaan ADMAPETA . Formulir dapat diunduh pada tautan berikut:
Iuran keanggotaan Periode 2018-2020 sebesar Rp 200.000- dapat ditransfer melalui :
 
Rekening BRI Syariah a.n. Zubaidah nomor rekening 1032614597, dan mengirim bukti transfer ke email: admapeta@gmail.com; serta menghubungi no WA Zubaidah +6281365702034

Kemenag Lantik Asosiasi Dosen dan Prodi Matematika PTKI

Jakarta (Kemenag) –Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Kemenag Arskal Salim GP melantik pengurus Asosiasi Dosen dan Program Studi (Prodi) atau Jurusan Matematika dan Pendidikan/Tadris Matematika Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (ADMAPETA dan APSMAPETA PTKI). Pelantikan digelar di Gedung Kementerian Agama, Jakarta, Senin (19/03).

Hadir dalam pelantikan, Kasubdit Kelembagaan dan Kerjasama Agus Sholeh, serta para Kepala Seksi dan perwakilan dosen Matematika pada PTKIN seluruh Indonesia.

“Kami menyambut baik terbentuknya asosiasi program studi dan dosen matematika ini. Kami akan mencoba melakukan koordinasi bersama para kasubdit, program apa yang bisa dikolaborasikan,” jelas Arskal Salim.

Menurut Arskal, saat ini muncul keinginan kuat dari para dosen untuk membentuk asosiasi keilmuan dosen dan program studi. ADMAPETA dan APSMAPETA PTKI bukan asosiasi yang kali pertama dibentuk. “Ini telah menjadi tren dan bisa terbentuk konsorsium keilmuan yang nantinya bisa bersinergi untuk program-program yang kolaboratif,” katanya.

Arskal berharap selain menjadi media berkumpul dan berinteraksi, asosiasi juga bisa menjadi sarana meningkatkan kualitas kolektif, bukan sekedar sharing di WA group, namun juga media mensinergikan potensi yang ada.

Kepada pengurus asosiasi, Arskal meminta untuk membuat kurikulum tentang integrasi keilmuan. “Matematika sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari Alquran. Bagi saya pribadi, Islam adalah science dan science adalah Islam. Integrasi bukan Islamisasi. Ini merupakan mandat pemerintah ketika kita mendirikan PTKI dan menjadi pembeda dengan pendidikan umum,” jelas Arskal.

Ketua APSMAPETA Risnawati menyampaikan bahwa tujuan dibentuknya Asosiasi ini adalah membangun kerjasama antara anggota asosiasi dan antar lembaga dalam rangka memberikan kontribusi terhadap kebijakan pelaksanaan tri dharma perguruan tinggi dalam bidang pendidikan, pengajaran, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

“Asosiasi juga akan melakukan peningkatan kualitas kurikulum melalui integrasi keilmuan serta peningkatan kualitas mutu dan akreditasi,” jelas Risna yang juga dosen matematika dari UIN SUSKA Riau.

Ketua ADMAPETA Ahmad Hanif Ashar menyampaikan, asosiasi dibentuk untuk memberikan manfaat kepada para dosen dan Kemenag pada umumnya. Menurutnya, resource yang ada saat ini cukup mumpuni, sudah banyak yang bergelar doktor bidang Matematika.

“Kami akan menyambut baik dengan tangan terbuka terkait kerjasama untuk pengembangan prodi Matematika,” jelas Hanif.

Agus Sholeh meminta agar asosiasi dosen dan prodi matematika melakukan penguatan matematika di Madrasah dan Pondok Pesantren. “Matematika tidak menakutkan, tapi menyenangkan, itu joyful learning,” tegasnya.

“Kami akan terus berkomunikasi untuk membuka peluang bagi bapak/ibu sekalian,” tandasnya. (Alip Nuryanto)

https://kemenag.go.id/berita/read/507223/kemenag-lantik-asosiasi-dosen-dan-prodi-matematika-ptki

Direktur PTKI Lantik Asosiasi Dosen dan Prodi Matematika PTKI

Jakarta (Diktis) – Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Prof. Arskal Salim GP, MA melantik pengurus Asosiasi Dosen dan Program Studi/Jurusan Matematika dan Pendidikan/Tadris Matematika Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (ADMAPETA dan APSMAPETA PTKI), Senin, 19 Maret 2018 di Ruang SIdang Lantai II Kementerian Agama RI. Hadir dalam pelantikan Agus Sholeh selaku Kasubdit Kelembagaan dan Kerjasama, Para Kepala Seksi dan perwakilan dosen Matematika pada PTKIN seluruh Indonesia.

Dalam sambutannya Direktur PTKI menyampaikan bahwa dari waktu ke waktu saat ini terjadi keinginan yang kuat dari para Dosen untuk membentuk asosiasi keilmuan dosen dan program studi. Ini bukan Asosiasi yang pertama yang telah dibentuk. “Ini telah menjadi tren dan bisa terbentuk konsorsium keilmuan yang nantinya bisa bersinergi untuk program-program yang kolaboratif,” imbuhnya.

“Kami menyambut baik atas terbentuknya asosiasi program studi dan dosen matematika ini, kami akan mencoba melakukan koordinasi bersama para kasubdit program apa yang bisa dikolaborasikan,” jelas Arskal.

Asosiasi dibentuk untuk berkumpul, berinteraksi dan meningkatkan kulaitas secara kolektif, bukan sekedar sharing di WA group namun ini menjadi media yang mensinergikan potensi yang ada.

Selain itu guru besar bidang Politik Hukum Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tersebut meminta kepada pengurus Asosiasi agar membuat kurikulum tentang integrasi keilmuan. “Matematika sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari Al-Qur’an. Bagi saya pribadi Islam adalah science dan science adalah Islam. “Integrasi bukan Islamisasi, ini merupakan mandat pemerintah ketika kita mendirikan PTKI dan menjadi pembeda dengan pendidikan umum,” jelas Arskal.

Sementara menurut Risnawati selaku Ketua APSMAPETA menyampaikan bahwa tujuan dibentuknya Asosiasi ini adalah untuk membangun kerjasama antara anggota asosiasi dan antar lembaga dalam rangka memberikan kontribusi terhadap kebijakan pelaksanaan tri dharma perguruan tinggi dalam bidang pendidikan, pengajaran, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

Selain itu asosiasi juga akan melakukan peningkatan kualitas kurikulum melalui integrasi keilmuan serta peningkatan kualitas mutu dan akreditasi, jelas Risna dosen matematika dari UIN SUSKA Riau.

Menurut Ahmad Hanif Ashar selaku ketua ADMAPETA menyampaikan bahwa Asosiasi dibentuk untuk memberikan manfaat kepada pada dosen dan Kemenag pada umumnya. Resource yang kami miliki luar biasa sudah banyak yang bergelar doktor bidang Matematika. “Kami akan menyambut baik dengan tangan terbuka terkait kerjasama untuk pengembangan prodi Matematika.” jelas Hanif.

Agus Sholeh meminta agar asosiasi dosen dan prodi matematika melakukan penguatan matematika di Madrasah dan Pondok Pesantren. “Matematika tidak menakutkan, tapi menyenangkan, itu joyful learning,” tegasnya.

Dalam kontek kerjasama Subdit Kelembagaan dan Kerjasama Dit. PTKI bisa menjadi mitra dari Asosiasi ini. “Kami akan terus berkomunikasi untuk membuka peluang bagi bapak/ibu sekalian,” jelas Agus Sholeh.

Penulis: Alip Nuryanto

Editor: Agus S

 

http://diktis.kemenag.go.id/NEW/index.php?berita=detil&jenis=news&jd=919#.WrmngNNuZo4

Conference dan Seminar PTKI

Call for Papers Best ICON UINSBY 2018

Call for Papers

We are pleased to invite you to the Built Environment, Science and Technology International Conference 2018 (BEST ICON 2018) which will be held in Surabaya, Indonesia on 18 and 19 September 2018. The BEST ICON 2018 is a unique opportunity for researchers, academicians, educators, scholars, practitioners, experts, and professionals to meet and share the latest knowledge, research and innovations on built environment, science and technology.

 

The BEST ICON 2018 is a premier interdisciplinary conference for the presentation of new advances and research in the fields of built environment, science and technology. The theme of this year’s conference is Integrated Science and Technology toward Sustainable Built Environment”.

 

The aim of the conference is to bring together researchers interested in but not limited to:

 

BUILT ENVIRONTMENT
– Sustainable Urban Planning and Design (SUD)
– Science and Technology for Sustainable Architecture (STA)
– Inclusive Housing and Human Settlement (IHS)
– Vernacular Architecture for Cultural Sustainability (VAC)
– Sustainable Enviromental management (SEM)
– Solid Waste and Hazardous Waste (SWH)
– Water and Wastewater Treatment (WWT)
– Air Quality and Phytotechnology (AQP)

SCIENCE
– Science and Technology for Marine Sustainability (STM)
– Inclusive Coastal Community Development (ICD)
– Rivers, Estuaries, Deltas, and Costal Areas Management (RCM)
– Biodiversity and Bioconservation for Sustainable Development (BSD)
– Structural and Functional Biology (SFB)
– Biomedical and Natural Bioproduct (BNB)
– Molecular Biology and Biotechnology (MBB)
– Mathematics, Statistics and its Aplications for Sustainable Development (MSA)
– Computer Science and its Aplications for Sustainable Development (SCA)
– Physics, Chemistry and its Aplications for Sustainable Development (PCA)

 

TECHNOLOGY
– Civil Engineering for Sustainable Development (CES)
– Disaster Risk Mitigation and Management (DRM)
– Management of Construction and Transportation (MCT)
– Management and Water Resources Engineering (MWR)
– IT Governance For Sustainable Development (ITG)
– Green Computing (GCG)
– Information System and Artificial Intelegent (ISA)
– IT Innovation (ITI)

 

https://seaam.net/2017/10/15/iain-ambon-tuan-rumah-icsate-2018/

IAIN Ambon Tuan Rumah  ICSATE 2018

Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ambon bekerjasama dengan Lembaga Teknologi Mahasiswa Islam Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam, Majelis Sinergi Kalam Ikatan Cendekiawan Muslim Se-Indonesia akan melaksanakan International Conference on Science and Technology in Education (ICSATE) 2018.

Konferensi tersebut akan dilaksanakan pada tanggal 9-11 Februari, 2018 bertempat di Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan IAIN Ambon. Konferensi merupakan acara untuk mempertemukan peneliti, dosen, dan juga mahasiswa untuk mendiskusikan perkembangan terkini kajian pendidikan yang berhubungan dengan sains dan teknologi.

Dr. Samad Umarella, Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) IAIN Ambon selaku tuan rumah menyatakan bahwa kegiatan ini akan menjadi sebuah ikhtiar dalam rangka menjadi wadah untuk sinergi dan juga pengembangan keilmuan. “Terkhusus di timur Indonesia, konferensi ini sangat strategis karena akan menjadi sebuah langkah dalam turut mendorong perguruan tinggi untuk bersanding dengan perguruan tinggi lain di Indonesia”, tutur dekan FITK IAIN Ambon.

Muhammad Ridal, M.Kom, Direktur Lembaga Teknologi Mahasiswa Islam (LTMI) Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam dalam kesempatan mempersiapkan acara Simposium Millenial yang akan berlangsung di Makassar (17/10) menyatakan bahwa pelaksanaan ICSATE 2018 sebagai langkah-langkah yang dilakukan oleh LTMI untuk menjadi bagian dari pemuda Indonesia yang senantiasa berupaya untuk melakukan inovasi. “prosiding konferensi ini akan diindeks di lembaga bereputasi”, pungkas Muhammad Ridal.

IAIN Ambon merupakan salah satu perguruan tinggi keagamaan Islam yang berada dalam koordinasi Kementerian Agama RI. “Walaupun secara khusus mengkaji agama, namun integrasi keilmuan dan juga persinggungan antar bidang ilmu merupakan bagian dari penelitian dosen dan juga diskusi bahan ajar para mahasiswa di dalam kelas” demikian dinyatakan Dr. Samad Umarella ketika menghadiri Rapat Koordinasi Forum Dekan Fakultas Tarbiyah dab Ilmu Keguruan PTKIN se-Indonesia di Ternate (14/10).

Sementara itu, Dr. Arifin Toatubun, Ketua Senat Akademik IAIN Ambon menyambut prakarsa untuk melaksanakan acara ini. Seusai mengadakan pertemuan dengan Universiti Malaya di Kuala Lumpur, beliau menyatakan bahwa pelaksanaan ICSATE 2018 adalah salah satu ikhtiar dalam mempertahankan atmosfer akademik yang sudah dilaksanakan selama ini. “Dengan demikian, adanya konferensi yang melibatkan banyak pihak akan menjadi bagian untuk mengembangkan lagi apa yang sudah ada” pungkas Arifin yang juga menyertai delegasi perguruan tinggi Indonesia timur yang berkunjung ke Kedutaan Besar Republik Indonesia di Kuala Lumpur.

PERTEMUAN KONSORSIUM PRODI MATEMATIKA DAN PENDIDIKAN MATEMATIKA SE-INDONESIA

PERTEMUAN KONSORSIUM PRODI MATEMATIKA DAN PENDIDIKAN MATEMATIKA SE-INDONESIA

Ketua Program Studi (25/08/17) mengikuti Pertemuan Konsorsium Program Studi Matematika dan Pendidikan Matematika yang diselenggarakan oleh Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sultan Syarif Kasim Riau. Kegiatan dengan tema:  memperkuat eksistensi keilmuan matematika dan Pendidikan Matematika Terintegrasi Keislaman dalam rangka mengembangkan karakter bangsa ini dihadiri oleh Ketua program studi matematika dan pendidikan matematika se- Indonesia. Dalam kegiatan ini juga di adakan penandatangan MoA program studi matematika dan pendidikan matematika yang dihadri 24 perwakilan PTKI se Indonesia. Hasil Konsorsium ini menghasilkan bebera keputusan : read more…

Kajian Integrasi

Integrasi Matematika dan Keilmuan Islam, Mungkinkah?

 

Di kolom atau halaman ini mari kita bahas bersama konsep yang terbaik yang (mungkin) bisa kita terapkan sebagai langkah awal integrasi matematika dengan Islam, harapan kami dengan adanya kolom ini kita bisa saling tukar pendapat tentang Integrasi matematika dengan Islam.

 

Ilmu umum khususnya matematika atau pendidikan matematika yang banyak berdiri semenjak 15 tahunan yang lalu baik di kampus  IAIN atau UIN  salah satu fungsinya adalah untuk memenuhi kebutuhan perkembangan zaman. Karena ada ilmu umum maka integrasi merupakan sebuah keniscayaan yang harus ada, apalagi banyak dari kampus IAIN yang bermetamorfosis ke UIN mewajibkan adanya integrasi sebagai distingsi dari kampus umum yang lainnya.

Konsep integrasi sains (salah satunya matematika) dengan keilmuan Islam memang masih terus menjadi perdebatan, Pro-kontra selalu mewarnai, kalangan yang kontra karena sudah lama terdoktrin tentang dualisme keilmuan, jadi tidak perlu dipaksa untuk di-‘Islamisasikan’. Beberapa pemikir kontemporer seperti Fazlur Rahman, Muhsin Mahdi, Abdus Salam, Abdul Karim Soroush dan Bassam Tibi, mereka tidak hanya menolak tetapi juga mengkritik tentang gagasan Islamisasi sains, seperti pendapat Fazlur Rahman yang berpendapat bahwa ilmu pengetahuan tidak perlu diislamkan karena tidak ada yang salah dalam ilmu pengetahuan, masalahnya hanya dalam penggunaannya. Kalangan yang pro implementasinya penuh warna. Ada yang dengan cara Islamisasi Sains yang digaungkan oleh Naquib al-Attas yang memiliki gagasan ilmu pengetahuan tidak bebas nilai (value-free) tetapi (value laden) yang sangat berkembang di Malaysia serta beberapa kawasan di Indonesia yang se-madzhab dengan itu. Ada juga Islamisasi nalar yang ingin menjembatani sulitnya pengarusutamaan islamisasi sains, makanya diambil langkah silahkan sains tetap berkembang tetapi nalar logis serta nalar empirisnya harus sesuai Islam. Ini mungkin banyak yang mengamini di Indonesia dikarenakan dualisme yang begitu melekat antara Islam dan Sains. Ada juga tokoh Islamisasi ilmu yaitu Ismail Al-Faruqi yang boleh jadi ada beberapa kesamaan dengan dengan gagasan Naquib al-Attas tetapi ada beberapa perbedaan yang mendasar diantara keduanya. Beliau mengemukakan lima prinsip metodologi Islam di bidang sains sebagai berikut: Prinsip Keesaan Allah; Prinsip kesatuan alam semesta; Prinsip kesatuan, kebenaran, dan kesatuan pengetahuan; Prinsip kesatuan hidup; Prinsip  kesatuan  umat  manusia.

Melihat dari pro dan kontra inilah kemudian diskursus mengenai islamisasi menjadi sesuatu hal yang menarik. Keyakinan penulis beberapa macam warna dalam implementasi tersebut pasti ada plus dan minusnya, ambil contoh sangat tidak mudah mengislamisasikan matematika yang sebagian besar merupakan ilmu terapan. Matematika berbeda dengan biologi, fisika, atau tentang kesehatan yang secara eksplisit sangat banyak ditemui ayat dalam al-Qur’an atau al-Hadits, semisal ayat tentang Hewan, lautan, tentang bayi dalam kandungan dan seterusnya. Di era beberapa tahun ini Beberapa bentuk integrasi yang sudah beredar-pun masih sebatas dalam satu mata kuliah anggap saja teori bilangan padahal teori bilangan hanya merupakan sebagian kecil dari sub rumpun ilmu di matematika. Ada juga yang menulis tentang integrasi matematika dengan keilmuan Islam dengan memasukkan unsur karakter atau Akhlak. Meski begitu, Integrasi matematika dan Islam adalah sebuah proyek ambisius untuk tidak menyebutnya utopia. Proyek integrasi matematika dengan Islam yang syarat dengan nilai akan sangat sulit tercapai karena bertentangan dengan dogma sains yang bebas nilai. Semoga kita semua mendapatkan petunjuk yang terbaik.

Gagasan pertama yang bisa kami himpun adalah tulisan dari pak Dr. Abdussakir, M.Pd. dalam beberapa tulisannya menyebutkan atau memberikan gambaran tentang konsep integrasi. kami ambil dalam

Abdussakir, Abdussakir (2017) Integrasi matematika dan al-Quran. Presented at Workshop Bidang Keahlian Program Studi Matematika, 7 Agustus 2017, Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sultan Syarif Kasim Riau. (Unpublished)

beliau berpendapat konsep integrasi bukanlah islamisasi matematika melainkan ‘Islamisasi diri melalui matematika’, konsep yang ditawarkan beliau adalah sebagai berikut: bisa dilihat di gambar

Mathematics and Al-Quran

1. Mathematics from Al-Quran yaitu Matematika digali atau dikembangkan dari al-Quran

2. Mathematics for Al-Quran yaitu Matematika digunakan untuk mengamalkan al-Quran

3. Mathematics to Al-Quran: to explore; to explain; to deliver

yaitu: matematika digunakan untuk mengeksplorasi, menjelaskan serta untuk men-deliver Al-Qur’an

4. Mathematics with Al-Quran yaitu Matematika dengan al-Qur’an

 

Gagasan kedua yang bisa kami himpun adalah tulisan dari Dr. Kusaeri, M.Pd. dalam tulisan di link  berikut . Gagasan beliau yaitu Integrating Maratib Qira’ah Al-Qur’an and Marzano’s Taxonomy to Provides Learning Objectives in Mathematics. penelitian tersebut merupakan penelitian yang mengembangkan taksonomi baru yaitu mengintegrasikan antara maratib qira’ah Al-Qur’an dengan taksonomi Marzano. Integrasi ini menghasilkan konsep tentang klasifikasi tujuan pembelajaran yang lebih komprehensif, termasuk deskripsi hasil integrasi dan indikasi prestasi belajar di semua tingkat hasil integrasi. Selain itu, penelitian ini memberikan contoh penerapannya dalam merumuskan tujuan pembelajaran matematika. Hasilnya menunjukkan bahwa integrasi antara maratib qirâ’ah al-Qur’an dan taksonomi Marzano menghasilkan 5 tingkat baru dalam klasifikasi tujuan pembelajaran. Klasifikasi ini meliputi (lihat gambar)

untuk gagasan-gagasan berikutnya kami menerima tulisan dari Bapak/Ibu untuk kemajuan PTKI. tabiik

Mengaji Matematika dalam Al-Qur’an (7): Derajat Terbesar

oleh: Dr. Abdussakir, M.Pd.

Al-Qur’an memang bukan kitab matematika, tetapi memuat ilmu matematika, baik matematika yang sangat dasar yang memberi inspirasi untuk dikembangkan maupun matematika yang terlalu tinggi yang manusia sendiri masih belum mampu menguaknya.

Al-Qur’an tertulis dalam huruf-huruf, bukan dalam angka-angka. Hanya, jika kita melihat sejarah munculnya angka, khususnya angka desimal (Hindu-Arab), maka Al-Qur’an diturunkan pada saat bangsa Arab menggunakan huruf sebagai simbol bilangan, bukan menggunakan angka, yang dikenal dengan istilah huruf al-jumal atau a ba ja dun. alif = 1, ba’ = 2, jim = 3, dal = 4 dst.

Di dalam matematika, ada istilah derajat. Derajat terkecil adalah 0 derajat dan derajat terbesar adalah 360 derajat, yaitu ukuran sudut satu lingkaran penuh. Jika kemudian muncul ukuran sudut 450 derajat, maka sebenarnya ukuran sudut tersebut adalah 90 derajat. Derajat terbesar, tetap 360 derajat, tidak akan melebihi.

Di dalam Al-Qur’an surat Al-Mu’min ayat 15, terdapat kata “rafiy’u ad-darajat”, yang mempunyai arti “Yang tertinggi derajat-Nya”. Di sini, muncul derajat tertinggi atau derajat terbesar (jika diangkakan). Berapa derajat terbesar itu dalam Al-Qur’an?

Kata “rafiy’u” tersusun dari huruf ra’, fa’, ya’, dan ‘ain. Jika dikonversi ke angka sesuai huruf al-jumal (abajadun)/nilai numerik huruf hijaiyah, maka diperoleh ra = 200, fa’ = 80, ya = 10, dan ‘ain = 70. Total pada kata “rafiy’u” adalah 200 + 80 + 70 + 10 = 360. Jadi,

rafiy’u ad-darajat = derajat terbesar = 360 derajat.

Saya tidak ingin mengatakan, Al-Qur’an sesuai dengan matematika. Karena, matematika kita yang memang harus sesuai dengan Al-Qur’an. Ini hanya menjadi sedikit bukti, bahwa kita terlambat untuk memahami simbol-simbol dalam Al-Qur’an.

Melihat fenomena ini, maka Al-Qur’an perlu dikaji tidak hanya sekedar sebagai susunan huruf-huruf, tetapi juga perlu dikaji sebagai susunan angka-angka, untuk menguak rahasia besar yang terkandung, sekali lagi dalam rangka mengokohkan langkah penghambaan kita sebagai makhluk.

Wallahu a’lam

Malang, 22 Safar 1434H/4 Januari 2013