Kajian Integrasi

Integrasi Matematika dan Keilmuan Islam, Mungkinkah?   Di kolom atau halaman ini mari kita bahas bersama konsep yang terbaik yang (mungkin) bisa kita terapkan sebagai langkah awal integrasi matematika dengan Islam, harapan kami dengan adanya kolom ini kita bisa saling tukar pendapat tentang Integrasi matematika dengan Islam.   Ilmu umum khususnya matematika atau pendidikan matematika yang banyak berdiri semenjak 15 tahunan yang lalu baik di kampus  IAIN atau UIN  salah satu fungsinya adalah untuk memenuhi kebutuhan perkembangan zaman. Karena ada ilmu umum maka integrasi merupakan sebuah keniscayaan yang harus ada, apalagi banyak dari kampus IAIN yang bermetamorfosis ke UIN mewajibkan adanya integrasi sebagai distingsi dari kampus umum yang lainnya. Konsep integrasi sains (salah satunya matematika) dengan keilmuan Islam memang masih terus menjadi perdebatan, Pro-kontra selalu mewarnai, kalangan yang kontra karena sudah lama terdoktrin tentang dualisme keilmuan, jadi tidak perlu dipaksa untuk di-‘Islamisasikan’. Beberapa pemikir kontemporer seperti Fazlur Rahman, Muhsin Mahdi, Abdus Salam, Abdul Karim Soroush dan Bassam Tibi, mereka tidak hanya menolak tetapi juga mengkritik tentang gagasan Islamisasi sains, seperti pendapat Fazlur Rahman yang berpendapat bahwa ilmu pengetahuan tidak perlu diislamkan karena tidak ada yang salah dalam ilmu pengetahuan, masalahnya hanya dalam penggunaannya. Kalangan yang pro implementasinya penuh warna. Ada yang dengan cara Islamisasi Sains yang digaungkan oleh Naquib al-Attas yang memiliki gagasan ilmu pengetahuan tidak bebas nilai (value-free) tetapi (value laden) yang sangat berkembang di Malaysia serta beberapa kawasan di Indonesia yang se-madzhab dengan itu. Ada juga Islamisasi nalar yang ingin menjembatani sulitnya pengarusutamaan islamisasi sains, makanya diambil langkah silahkan sains tetap berkembang tetapi nalar logis serta nalar empirisnya harus sesuai Islam. Ini mungkin banyak yang mengamini di...

Mengaji Matematika dalam Al-Qur’an (7): Derajat Terbesar

oleh: Dr. Abdussakir, M.Pd. Al-Qur’an memang bukan kitab matematika, tetapi memuat ilmu matematika, baik matematika yang sangat dasar yang memberi inspirasi untuk dikembangkan maupun matematika yang terlalu tinggi yang manusia sendiri masih belum mampu menguaknya. Al-Qur’an tertulis dalam huruf-huruf, bukan dalam angka-angka. Hanya, jika kita melihat sejarah munculnya angka, khususnya angka desimal (Hindu-Arab), maka Al-Qur’an diturunkan pada saat bangsa Arab menggunakan huruf sebagai simbol bilangan, bukan menggunakan angka, yang dikenal dengan istilah huruf al-jumal atau a ba ja dun. alif = 1, ba’ = 2, jim = 3, dal = 4 dst. Di dalam matematika, ada istilah derajat. Derajat terkecil adalah 0 derajat dan derajat terbesar adalah 360 derajat, yaitu ukuran sudut satu lingkaran penuh. Jika kemudian muncul ukuran sudut 450 derajat, maka sebenarnya ukuran sudut tersebut adalah 90 derajat. Derajat terbesar, tetap 360 derajat, tidak akan melebihi. Di dalam Al-Qur’an surat Al-Mu’min ayat 15, terdapat kata “rafiy’u ad-darajat”, yang mempunyai arti “Yang tertinggi derajat-Nya”. Di sini, muncul derajat tertinggi atau derajat terbesar (jika diangkakan). Berapa derajat terbesar itu dalam Al-Qur’an? Kata “rafiy’u” tersusun dari huruf ra’, fa’, ya’, dan ‘ain. Jika dikonversi ke angka sesuai huruf al-jumal (abajadun)/nilai numerik huruf hijaiyah, maka diperoleh ra = 200, fa’ = 80, ya = 10, dan ‘ain = 70. Total pada kata “rafiy’u” adalah 200 + 80 + 70 + 10 = 360. Jadi, rafiy’u ad-darajat = derajat terbesar = 360 derajat. Saya tidak ingin mengatakan, Al-Qur’an sesuai dengan matematika. Karena, matematika kita yang memang harus sesuai dengan Al-Qur’an. Ini hanya menjadi sedikit bukti, bahwa kita terlambat untuk memahami simbol-simbol dalam Al-Qur’an. Melihat fenomena ini, maka Al-Qur’an perlu dikaji tidak hanya...

Dimanakah Posisi PTKIN Indonesia (Menyoal Publikasi Ilmiah Terindeks Scopus)

Kementrian Ristek Dikti selalu mendengung-dengungkan tentang salah satu indikator kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dari suatu negara adalah banyaknya hasil penelitian yang dipublikasikan dan dimanfaatkan. Saat ini publikasi Indonesia di internasional sangat minim, dan dibandingkan dengan negara tetangga Malaysia dan Thailand masih jauh tertinggal. Dampak terbesar yang ditimbulkan dari rendahnya publikasi ilmiah peneliti Indonesia di internasional adalah rendahnya daya saing bangsa di dunia internasional, sehingga akan berpengaruh secara tidak langsung terhadap laju pertumbuhan ekonomi Indonesia. Bahkan pada tahun ini Ristek Dikti mengeluarkan Permen no 20 tahun 2017 mewajibkan profesor untuk menulis di jurnal international, dengan asumsi ada sekitar 5800 professor di Indonesia akan dapat meningkatkan jumlah jurnal internasional dari Indonesia. Lantas, bagaimana posisi kita (Baca: PTKIN di Indonesia)?. Akhir tahun 2016 Ristek Dikti mengeluarkan rilis tentang buku profil peringkat 50 besar institusi Indonesia terindeks Scopus. Ada yang menarik jika dilihat dari buku tersebut yang masuk 50 besar dari sekian banyak PTKIN di Indonesia hanya UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan peringkat 32. Dari data dapat dilihat sejak 2002 sampai Juni 2016 total ada 210 dokumen (326 dokumen per tanggal 27 September 2017) yang berarti separuh lebih kontribusi UIN Syarif Hidayatullah terhadap banyaknya jurnal internasional di kalangan PTKIN dengan sebagian besar (47% berbentuk article) serta 42% berbentuk conference paper, serta sisanya berbentuk book chapter, review, dan book. Untuk detailnya, hasil dari penelusuran menggunakan afiliasi institusi di PTKIN dengan Kata kunci yang digunakan ialah : kalijaga, syarif hidayatullah, maulana malik Ibrahim, gunung djati, sunan ampel, walisongo, sultan syarif kasim, alauddin, ar-raniry, raden fatah, iain mataram, raden intan, syekh nurjati, palopo ditemukan 540 dokumen yang terekam di indeks Scopus dari tahun 2002 sampai 27 September 2017. Bandingkan...