Mengaji Matematika dalam Al-Qur’an (7): Derajat Terbesar

oleh: Dr. Abdussakir, M.Pd.

Al-Qur’an memang bukan kitab matematika, tetapi memuat ilmu matematika, baik matematika yang sangat dasar yang memberi inspirasi untuk dikembangkan maupun matematika yang terlalu tinggi yang manusia sendiri masih belum mampu menguaknya.

Al-Qur’an tertulis dalam huruf-huruf, bukan dalam angka-angka. Hanya, jika kita melihat sejarah munculnya angka, khususnya angka desimal (Hindu-Arab), maka Al-Qur’an diturunkan pada saat bangsa Arab menggunakan huruf sebagai simbol bilangan, bukan menggunakan angka, yang dikenal dengan istilah huruf al-jumal atau a ba ja dun. alif = 1, ba’ = 2, jim = 3, dal = 4 dst.

Di dalam matematika, ada istilah derajat. Derajat terkecil adalah 0 derajat dan derajat terbesar adalah 360 derajat, yaitu ukuran sudut satu lingkaran penuh. Jika kemudian muncul ukuran sudut 450 derajat, maka sebenarnya ukuran sudut tersebut adalah 90 derajat. Derajat terbesar, tetap 360 derajat, tidak akan melebihi.

Di dalam Al-Qur’an surat Al-Mu’min ayat 15, terdapat kata “rafiy’u ad-darajat”, yang mempunyai arti “Yang tertinggi derajat-Nya”. Di sini, muncul derajat tertinggi atau derajat terbesar (jika diangkakan). Berapa derajat terbesar itu dalam Al-Qur’an?

Kata “rafiy’u” tersusun dari huruf ra’, fa’, ya’, dan ‘ain. Jika dikonversi ke angka sesuai huruf al-jumal (abajadun)/nilai numerik huruf hijaiyah, maka diperoleh ra = 200, fa’ = 80, ya = 10, dan ‘ain = 70. Total pada kata “rafiy’u” adalah 200 + 80 + 70 + 10 = 360. Jadi,

rafiy’u ad-darajat = derajat terbesar = 360 derajat.

Saya tidak ingin mengatakan, Al-Qur’an sesuai dengan matematika. Karena, matematika kita yang memang harus sesuai dengan Al-Qur’an. Ini hanya menjadi sedikit bukti, bahwa kita terlambat untuk memahami simbol-simbol dalam Al-Qur’an.

Melihat fenomena ini, maka Al-Qur’an perlu dikaji tidak hanya sekedar sebagai susunan huruf-huruf, tetapi juga perlu dikaji sebagai susunan angka-angka, untuk menguak rahasia besar yang terkandung, sekali lagi dalam rangka mengokohkan langkah penghambaan kita sebagai makhluk.

Wallahu a’lam

Malang, 22 Safar 1434H/4 Januari 2013

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *